Monday, 29 August 2022

PERTEMUAN

Sapaan yang bersarang di hati
mesranya adalah pengalaman
manisnya itulah kenangan
mengandam wajah pertemuan.

Detik kehilangan
membenih warna pedih
merah mencakar tangis.

Mengenangmu,
saat menyusuri alur dan lurah ingatan
ada sendu berbilur
lalu ku kutip dan hitung
daun-daun ingatan
berselerak di kaki hari-hari
tanpamu...










MENCANTUM TULANG RAPUH

Tulang lengan kiri serpih itu
kemanakah telah kuserakka 
apakah masih pedih luka kenangan
atas sekadar sedih tak berperenggan.
Kau ambillah kain limbarku ini
bayangkanlah luka di perut malam
bebatkan luka di kalbu pagi

Katamkan ranting cemburu
repihkan tunas prasangka
di taman yang kau angankan
rentasilah tanah makan cinta itu
hingga tubuhma berbau kemboja
aku pun lantas sudi
mencabut kemuncup dan melurut
bunga rampai di kakimu

Kau harus tahu meletakkan pembahagi
di antara dendam dan iri
sebelum mendongengkan kembali
wanita gundahmu yang tak bersimpul itu.














PUTIK TERAPUNG

Apabila lembar-lembar harapan
telah terbakar di awal musim
kita pun memulakan
suatu perjalan jauh
dari tahun ke tahun
mengheret hasrat yang meruntun.

Neraca yang mengimbangi kita
memang sejak mula terpintal
kerana alasan bukan pembohongan
dan pertanyaan masih tersimpan
tanpa kepastian hakiki.

Kitalah putik terapung
menghanyutkan waktu manis
yang indah dalam impian
resah dalam ingatan
namun kasih sayang kita
tetap kekal selamanya.











PERJALANAN PANJANG

Aku cuma dapat membayangkan
gadis itu pergi
sendiri menempuh perjalanan panjang
ke halaman kelam 

Hari yang baik
tahu membahagiakan
diapun tak pernah berduka
ada gembira, pasti ada nestapa.

Surat-suratku....
siapakah yang membacanya?
Khabar telah lama kehilangan kata
sehingga pada suatu malam bening
gadis itu muncul tiba-tiba.
Dan aku berkata
mari raikan kesetiaan hati
menjaga kembang.
Bukankah cinta itu
adalah kesungguhan ingin
yang memelihara..... 

















ROS : RAMBULAN

Ros,
kucanai malam menjadi ranjang
kugantung bintang-bintang
terikat mimpi menjadi dewi muda seseorang
kupintal langit menjadi hamparan
kujahit bulan menggulung awan.

Ros,
tersimpul mimpi menjadi maharani seseorang
bawalah daku sepantun laut
bawalah daku sesajak pantai
kualur sungai mengipas gelombang.

Ros, 
lamar ku gunung-ganang bantalku
pinang ku sawah ladang selimutku
dan malam itu bermimpi beradu bersamamu.
Malam menjadi ranjang
siang menjadi hantaran
ku petik sehelai rambutmu
lalu ku lukis sebuah percintaan pada Tuhan
usia kita lima belas tahun ke hadapan.

Ros,
kita lahir kasih sayang
dalam gumpalan awan
yang ku jahit layarnya.
Perkesahan tebaran percintaan.



























LANDSKAP PERPISAHAN

Telah ku uraikan simpulan cinta ini
biar terlerai membenam erat mesra
getir dan pasrah diri membaluti
segenap liang-liang luka
tusukan belati hitam dari panahan
nafsu baranmu.
Kuratah jua dalam pedih hiba
meratap saat perpisahan ini.



ARAFAH

  HAJIKU - SAAT ALLAH MEMELUK ERAT, AIR MATA DUKA TERLERAI  Dengan jari yang sedikit menggigil, aku membuka aplikasi itu. Dan di sana—terpam...