Sunday, 25 September 2022

PUISI OMBAK

 Setiap kali kaki melangkah
Mendekati pasir di pantai indah,
Setiap kali telinga mendengar,
Suara ombak yang berdebur,

Maka perlahan-lahan
Merayap dalam hati
Kerinduan yang menggebu-gebu
Bagaikan gerimis jatuh di hamparan waktu.

Rinduku ini membuncah
Bagaikan ombak yang pecah
Di atas batu, ia menghempas
Lalu pulang ke lautan.

Ombak Kehidupan


Resahku belum usai
Saat gerimis turun renyai.

Dengan gontai aku berjalan,
Kaki melangkah entah kemana.

Diterjang ombak kehidupan
Lemahku jatuh terkulai.

Ingin rasanya seperti karang
Yang menyambut gelombang.

Membiarkan ombak menyentuh
Dan pecah di pelukannya.


Ombak Pantai


Kulepaskan pandanganku
Jauh ke luasnya lautan.

Gelombang datang
Bergulung-gulung.

Lalu ketika sampai di pantai
Ia menjadi ombak yang pecah.

Suaranya begitu indah
Merdu mengisi qolbu.

Oh ombak
Tak pernah letik engkau menari
Memesona orang-orang di pantai
Mengiringi perahu dan sampan.


Ombak Cinta


Kapankah kita punya waktu?
Kembali lagi ke pantai itu.

Pantai indah berpasir jernih
Tempat ombak memecah sunyi.

Di sana
Ingin lagi kukatakan cinta
Kepadamu yang kukasihi
Dengan sepenuh hati.

Tahukah kamu
Cintaku padamu laksana ombak
Tak pernah berhenti datang bertubi-tubi

Hanya kepadamu satu
Seorang kekasih dalam qolbu.

Maka marilah
Kita mencari waktu
Kembali ke pantai indah itu.

Biar ombak cintaku berdebur lagi
Seperti dahulu.

Ombak Di Tepi Pantai


Di Tepi Pantai
Debur ombak
Memecah di tepi pantai.

Angin berhembus lemah lembut
Menyapa jiwa yang hening.

Dan kulihat perahu nelayan
Terombang-ambing sangat pelan

Di atas air lautan
Hendak bersandar
Saat senja datang menjelang.

Puisi Ombak Menghempas Di Atas Batu

Duduk sendiri di tepi pantai
Bergemuruh kudengar suara lautan
Datang dengan bergelombang
Menjadi ombak pemecah kesunyian.

Ombak menghempas di atas batu
Memercikan air ke udara
Surut pulang ke lautan
Tak lama kemudian kembali datang.

Betapa setiap ombak lautan
Selalu kembali ke bebatuan
Menumpahkan suara alam
Terdengar di jiwa penuh kelembutan.


Debur Ombak Yang Mengucapkan Rindu


Debur ombak di pantai
Pecah di atas batu karang
Memercik hingga ke wajah
Menyentuh dengan tangan basah.

Ombak telah mengabarkan
Sebuah rindu dari kejauhan
Untukku yang sepi
Menunggu dalam kesunyian.

Kutunggu engkau di sini
Wahai pujaan hati
Di setiap senjakala
Kupuisikan namamu dengan indah.

Kusapukan lenganku
Pada bibir pantai yang merindu
Mungkin saja kau di sana
Merasakan kehadiranku
Yang juga disergap rindu.


Puisi tentang ombak merupakan salah satu puisi yang banyak diciptakan. Mungkin saja ada sebab tertentu. Banyak sekali pujangga dan penyair yang terinspirasi dengan ombak.

Ombak bisa menjadi lambang banyak hal. Bisa melambangkan kerinduan, ujian, keberanian, perjuangan, dan lain sebagainya.

Kadang-kadang ombakpun menyertai pantai untuk mengisahkan tentang perpisahan. Puisi di bawah ini juga masih puisi ombak dan cinta.

Hanya saja akan ada kesepian, sebab di dalamnya menceritakan tentang perpisahan.

Di Pelabuhan, Cinta Kita Berpisah

Telah mekar kembang cinta
Di taman-taman penuh kerinduan.
Menjadi harapan di dalam jiwa
Moga saja menjadi kenyataan.

Kunanti-nanti masa terbaik
Kutunggu-tunggu dalam tanya
Kapankah waktunya untuk bersama?

Ah entah mengapa
Jalan hidup tak sesuai rencana
Aku berharap, kau beri kecewa
Aku meminta, kau menolak
Aku memberi, kau melupakannya.

Kini sampailah sudah
Mungkin inilah saatnya berpisah
Usah dikenang kenangan lama
Biarlah ia menjadi sekedar cerita.

Cintaku telah pudar
Bagai pudarnya saat senja
Hatiku telah berlayar
Seperti berlayarnya kapal di pelabuhan.


Akulah Pelabuhanmu
Setiap perahu yang datang
Setiap sampan yang pulang
Setiap bahtera yang bersandar
Kembali mereka ke pelabuhan.

Usah kau resahkan jiwa yang luka
Usah kau biarkan hati yang bersedih
Datanglah kepadaku hari ini
Sebab diriku pelabuhan cintamu.


Senja Di Pelabuhan Berhujan

Jika senja telah tiba
Kusebarkan resahku
Pada ombak di bibir pantai.

Kucoba melupakanmu
Yang pergi lama sekali
Tak ada kabar
Kapan kembali

Hari ini aku menangis
Sebab telah kuputuskan
Untuk melupakan segalanya
Di senja di pelabuhan yang berhujan.

Aku dan Pantai

Aku mencintai pantai. Kerapkali mengunjunginya. Seperti surya yang menyambangi hari di dunia.

Aku menyukai pantai sebab ia menggambarkan persahabatan. Bahwa jika engkau adalah lautan biarlah aku menjadi ombaknya.

Jika kau adalah ombak, biarkan aku yang menjadi deburannya. Dan bila aku adalah angin, biarkan aku yang menjadi arahnya.

Begitulah hatiku dalam persahabatan. Ia mencintai sahabatnya sebagaimana ombak mencintai pantai.

Tak jua ingin terpisah.

Ombak hanya hilang seandainya lautan mulai mengering. Maka begitulah diriku, persahabatan ini hanya selesai jika raga telah terpisah.

Namun jiwanya tetap menyatu. Tak terganggu oleh perpisahan raga.



Jika Mampu
Aku ingin menulis kisah
Antara dirimu dan diriku
Kisah yang sangat indah
Terbentang di hamparan waktu.

Jika aku boleh meminta
Ingin kupinta darimu
Sebuah jiwa yang setia
Dalam cinta ia menderu.

Engkaulah bintangku
Yang datang di waktu senja
Sebelum jatuh jubah malam
Agar hatiku tiada suram.

Kau Semestaku


Aku hanya sebuah kata
Dalam puisi-puisi indahmu.

Aku hanya sebuah ombak
Dari gulungan gelombangmu.

Aku hanya satu bintang
Di antara bintang-bintangmu.

Tapi bagiku,
Engkau adalah semestaku




Monday, 29 August 2022

PERTEMUAN

Sapaan yang bersarang di hati
mesranya adalah pengalaman
manisnya itulah kenangan
mengandam wajah pertemuan.

Detik kehilangan
membenih warna pedih
merah mencakar tangis.

Mengenangmu,
saat menyusuri alur dan lurah ingatan
ada sendu berbilur
lalu ku kutip dan hitung
daun-daun ingatan
berselerak di kaki hari-hari
tanpamu...










MENCANTUM TULANG RAPUH

Tulang lengan kiri serpih itu
kemanakah telah kuserakka 
apakah masih pedih luka kenangan
atas sekadar sedih tak berperenggan.
Kau ambillah kain limbarku ini
bayangkanlah luka di perut malam
bebatkan luka di kalbu pagi

Katamkan ranting cemburu
repihkan tunas prasangka
di taman yang kau angankan
rentasilah tanah makan cinta itu
hingga tubuhma berbau kemboja
aku pun lantas sudi
mencabut kemuncup dan melurut
bunga rampai di kakimu

Kau harus tahu meletakkan pembahagi
di antara dendam dan iri
sebelum mendongengkan kembali
wanita gundahmu yang tak bersimpul itu.














PUTIK TERAPUNG

Apabila lembar-lembar harapan
telah terbakar di awal musim
kita pun memulakan
suatu perjalan jauh
dari tahun ke tahun
mengheret hasrat yang meruntun.

Neraca yang mengimbangi kita
memang sejak mula terpintal
kerana alasan bukan pembohongan
dan pertanyaan masih tersimpan
tanpa kepastian hakiki.

Kitalah putik terapung
menghanyutkan waktu manis
yang indah dalam impian
resah dalam ingatan
namun kasih sayang kita
tetap kekal selamanya.











PERJALANAN PANJANG

Aku cuma dapat membayangkan
gadis itu pergi
sendiri menempuh perjalanan panjang
ke halaman kelam 

Hari yang baik
tahu membahagiakan
diapun tak pernah berduka
ada gembira, pasti ada nestapa.

Surat-suratku....
siapakah yang membacanya?
Khabar telah lama kehilangan kata
sehingga pada suatu malam bening
gadis itu muncul tiba-tiba.
Dan aku berkata
mari raikan kesetiaan hati
menjaga kembang.
Bukankah cinta itu
adalah kesungguhan ingin
yang memelihara..... 

















ROS : RAMBULAN

Ros,
kucanai malam menjadi ranjang
kugantung bintang-bintang
terikat mimpi menjadi dewi muda seseorang
kupintal langit menjadi hamparan
kujahit bulan menggulung awan.

Ros,
tersimpul mimpi menjadi maharani seseorang
bawalah daku sepantun laut
bawalah daku sesajak pantai
kualur sungai mengipas gelombang.

Ros, 
lamar ku gunung-ganang bantalku
pinang ku sawah ladang selimutku
dan malam itu bermimpi beradu bersamamu.
Malam menjadi ranjang
siang menjadi hantaran
ku petik sehelai rambutmu
lalu ku lukis sebuah percintaan pada Tuhan
usia kita lima belas tahun ke hadapan.

Ros,
kita lahir kasih sayang
dalam gumpalan awan
yang ku jahit layarnya.
Perkesahan tebaran percintaan.



























LANDSKAP PERPISAHAN

Telah ku uraikan simpulan cinta ini
biar terlerai membenam erat mesra
getir dan pasrah diri membaluti
segenap liang-liang luka
tusukan belati hitam dari panahan
nafsu baranmu.
Kuratah jua dalam pedih hiba
meratap saat perpisahan ini.



Tuesday, 26 July 2022

UNTUK WANITA ISTIMEWA

Beberepa langkah menuju subuh
ketukan-ketukan cemas
membawa sunyi lari ketakutan.
   Kau datang
   menelusuri hitamnya malam
   "Kerana inilah risiko cinta" katamu.
Kita merasmikan tanpa saksi
tanggungjawab kita bermula
aku mengangkat sumpah setia
kau menjanjikan kebahagiaan.
   Upacara selesai
   aku pergi meninggalkan mu
   dengan tugas-tugasmu.
"Peganglah impian itu untuk kita"
aku mengangguk, kau tersenyum melambai
dua puluh jari meliuk-liuk
rebah menangis.
Perjalananku diteruskan
menembusi awan yang menyimpan jutarasa
kau memandang sampai hilang
aku melihat lengang
    Di rumah
    impianmu ku urai
    mengalir tanpa henti-hentinya
    harapanmu banyak sekali
    kita di tengah-tengah
360 darjah aku berpusing
kanan, kiri, bawah, atas, belakang, depan
masih kelam.
   Aku masih berdiri segagah mungkin
   walau tanpa tenaga
   kerana keyakinan 
   ada pada pedang hatiku
   yang kau asah siang malam
   sebelum aku berlepas meninggalkanmu.
Nah... !
ambillah mawar untukmu milikku
wanitaku satu.































Sunday, 24 July 2022

OMBAK DI HATI

Siapa yang pernah
Mengkaji dan mempelajari
Ombak di hati... 
jadi gelombang, berhempas pulas
di pantai kemahuan yang tohor
lalu perahu hanyut
teroleng menuju pelabuhan iman
tertunda oleh benteng was-was.
Mujur ada kompas taqwa
memandu ke pelantaran hakiki
dan berehat sebentar
di dulang lafaz
sebelum diedar
ke kawasan kehidupan.












SEHABIS PERTEMPURAN

Semasa pertempuran 
Kau diam menadah tubuhmu
Ke langit bingar.
Kau bertahan kesejukan
Sambil merasa girimis
Hujan jatu
Menimpa tubuh lukamu.

Kau diam menepis petir mengkilati
Pohon-pohon di bumimu
Kau bertahan,
Bertahan dengan teguh
Sianghari yang selalu
Menjelma esoknya.














Sunday, 26 June 2022

DAERAH KENANGANKU

Pagimu cerah menyambut ketibaanku
Segalanya jernih dan mempesonakan
Aku menari mengikut bayumu
Lalu terlena di bawah rentakmu.

Cameron Highland...
Tentunya kau banyak menyimpan ceritaku
Cerita suka duka, pahit manis...
Kau yang dulu dan sekarang
Setia menantiku
Untuk melepas rasa rindu.
Senja yang hening pasti menyayukan
Muram malammu menitiskan air mataku
Tapi kau tentu mahu menyimpan kenangan itu.

Cameron Highland..
Berjanjilah kau akan menyimpan rahsia
Yang pernah kita kongsi bersama..




Thursday, 2 June 2022

KITA SEMAKIN JAUH

Ada kepiluan terlontar
dari nyanyian dan kicau
burung-burung itu
ia semakin kehilangan pohon
untuk berteduh
ia semakin kehilangan taman
untuk bermain. 

Ada keresahan sarat berguling
dalam arus sungai itu
ia sudah kehilangan arah
tanpa jeram dan batu-batu
atau senda ikan jinak
yang damail lagi mengasyikkan. 

Kota ini kian lemas
di jaring kesesakan
wajah kita kian hitam 
dibalut kecemaran. 

Kita sebenarnya semakin terpisah
dari keramahan sepoi angin. 
Kita sebenarnya semakin jauh
dari kelembutan gemersik daun. 

Yang tinggal hanyalah
kotak-kotak dari batu. 
Rimas, panas dan menipukan. 
















Tuesday, 24 May 2022

TODAY

I may not be the best,
but.... 
if I could choose a day
I would like to choose this day
to show my love to you. 






TAK AKAN PULANG

Asap tak akan pulang kepada api
Rindu abu terpendam di unggun kenangan. 

Madu tak akan pulang ke mawar
Cinta duri terpacak di ranting sepi.

Daun tak akan pulang kepada pohon
Resah burung hinggap di dahan duka. 

Bayang tak akan pulang kepada cahaya
Mimpi alam memanjang di lorong kehidupan. 





Sunday, 22 May 2022

CERITA LAUTAN

i
Seroja
rasa rindu, kasih Dan cinta
melimpah membuak buak
bagai riak riak ombak
berlari ke pantai melimpahi lautan.
Atau... bagai gelombang lautan
             berkocak-kocak mendidih
             jiwa pun bagai gelombang
             bersama keharuan, rasa sedih, 
             rasa rindu, segala getar sukma. 
ii
Ah, 
detik keharuan ini datang seketika, 
sedang baru saja cuba
kutafsirkan sebelum kurakamkan
di memori kalbu yang mula bergetar, 
ahai, lagu-lagu rindu
          larik-larik kasih
          bait-bait cinta
          teradun, balada rindu
          didendang mengusik
          bagai pelangi di ufuk
          hilang di bibir horizon
          hilang di kepulan-kepulan awan. 


























Wednesday, 18 May 2022

BUNGA BUANA

Akan berputiklah bunga buana
ketika pohon kehidupan ini
terpendam dalam rimbunannya
digerhana pagi.
Akan terpetiklah segala yang indah
di bunga buana selama tangan
kembara, pengukir sumpah,
berjejarikan sengketa.

Akan berputik dan terpetiklah
bunga buana,
sebelum nisan pusara
kehilangan nama.



Monday, 16 May 2022

BURUNG MALAM

Dengan kepak terbuka
dan bau berahi
ia terbang dari pohon ke pohon
hilang dalam bayang
kemudian meleraikan
seyiap helai malu
bak burung baru lahir
bertemankan serigala
mengaku kekasihnya.







Sunday, 24 April 2022

ALAM PUISI

Kurung malam
bintang-bintang mengerdip
bunyi kuang seekor sebukit
kedinginan Pak Tua dihanyut rakit
merenung usia suratan nasib
berbelit menggigit
jangkit menjangkit bumi ke langit

Hujung malam
kembang-kembang menitip
kokok subuh mengayam
dengkur orang muda melonjak ke bukit
mendera dendam suatu yang sakit
senyum tak bermadu... bulan tak terbit

Pak Tua dan malam : Puisi dan alam
satu kesatuan yang unik.




Thursday, 14 April 2022

MENGHITUNG BINTANG

Sudah bertahun aku menimbun busut,
memanjat gunung, menuruni lembah,
menongkah surut, melawan badai,
mengejar bayang, mengutip nilam.

Sudah berkurun menyalak gua,
memijak tangga, memanjat sungai,
menolak tongkat, membuang darjat.
Tapi...
aku tak puas
menghitung bintang.







Thursday, 31 March 2022

TERSADAI

Tersadainya sebuah kapal
di pesisiran pantai,
Ombak yang ganas memaksanya
ketepi,
mendendangkan lagu sedih menghiris hati.

Tersadainya sebuah kapal
di pengkalan tua
laut tak berombak
pesisir kian meninggi
menjadikannya lesu dan terbiar.

Tersadai,
tersadailah kapal kapal
ombak dan pasir jiwa melara harap
punah impian seutuh angin.



Wednesday, 30 March 2022

MERANGKAI KUNTUM DOA BERSAMA

Saban musim yang dijejaki bersama
mewarnai memori di kaki pengalaman
ada sketsa bianglala di langit ingat
segalanya melorong kematangan.

Suriku...
agar hujan yang pernah membasahi
kita payungi dengan batas tafsir
agar gelora yang pernah membadai
kita bentengi dengan waras fikir.

Mari kita rangkai kuntum kuntum doa
menyatu cita cita luhur
memanjangi hajat
kita hiasi hayat dengan bunga mesra
mekar santun mewangi rasa
merimbun bahagia..












KATAKANLAH

Katakanlah bahawa aku
sudah tidak punya waktu lagi
untuk memikir dan
membicarakan persoalan
yang tidak bisa terungkai lagi
dan mungkin kian kusut kini.

Dan katakanlah jua
bahawa pertemtangan hajat
takkan bisa mengukir hasrat
pada suatu gemersik angin damai
kerana senyum sinis hanya persis
lewat sebuah tanda tanya baru.

Sedang bulan berwajah pucat
dan bintang tersipu malu
insan sepertiku terharu
dinihari masih gelap 
dan panjang.






Sunday, 27 March 2022

AKU, SEEKOR BURUNG DAN KUCING

Anak burung
yang dulu kau lepaskan itu
kini menyanyi
di luar sangkarmu.
Anak burung yang dulu
bernyanyi nyanyi di luar sangkar itu
kini terluka
diterkam kucing kemanjaanmu. 
Kucing yang dulu
mengesel ngesel tubuhnya dikakimu
kini sednag mengasah
kuku dan taringnya.
Kini aku sudah menyiatkan
kulit mukaku
sedia disiat cakar
dan kerkah kucing kemanjaanmu. 



 

 

Thursday, 24 March 2022

PAGI

Pagi... lembut dan wangi
tak datang lagi
menghias hari
cantik berseri.

Pagi... lembut dan wangi
telah mati
terkubur diri
kejam dan keji.

Pagi pun jadi dalang
ganas dan liar
mencakar menggigit
keayuan hilang.

Pagi pun jadi kejam
menjahanam dan membunuh
kehidupan panjang
musnah hitam.





HARAPAN

Seperti bulan kelabu akhir November.
Seperti langit dilukai redup awan.
Adalah aku ...
yang menadah harap
di atas hamparan simpati
yang kian menipis
di bawah bayang
cermin kotaraya.

Melihat wajahmu
akupun jadi lupa
pada hari semalam
yang terluka.

Ros, aku sayang padamu.




Tuesday, 22 March 2022

TELUK KETAPANG

Telah ku sedut wangi laut
di sebuah pantai lena
aku mendongak ke langit
di sini laut lengang.
Segalanya mati
pantai yang pemalu
perahu yang tertambat
bisik angin
dan kita pun terasing.
Teluk Ketapang
aku tidak berbicara
dan engkau tidak menyahut.








Monday, 21 March 2022

MASIH HARUMKAH LAGI

Masih harumkah lagi
kuntum kembangan janji
yang wujud di pohon
rindumu.
Pun masihkah
ada harapan
kalau ingin kupetik
biarpun kini
jauh di hijau bukit.







 

ARAFAH

  HAJIKU - SAAT ALLAH MEMELUK ERAT, AIR MATA DUKA TERLERAI  Dengan jari yang sedikit menggigil, aku membuka aplikasi itu. Dan di sana—terpam...